Jumat, 27 Januari 2012

Bahaya Menerima Telepon Saat Berkendara di Jalan

Bahaya apa Saja kah Saat Berkendara Motor???





Sore tadi, tepatnya sekitar pukul 15 wib lewat, ketika saya pulang dari mengecek barang di sebuah mal di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Saat itu di perempatan Jembatan Tiga, antara jalan Tubagus Angke dengan jalan Letjend. S. Parman menuju Kota. Saya melihat seorang pria mengendarai sepeda motor yang sama-sama terhenti bersama kami karena lampu merah, saat itu pengendara tersebut mengambil sebuah ponsel dari saku celananya untuk kemudian dilihat langsung. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan lelaki itu, karena melihat ponsel, mungkin ada telepon masuk ataupun sms saat lampu merah masih berjalan. Nah, ketika beranjak lampu kuning menuju lampu hijau yang berarti kendaraan boleh langsung lewat, tiba-tiba saja pengendara tersebut menyelipkan ponselnya ke telinga didalam helm.
Sambil asyik menarik gas, lelaki itu sibuk bercuap-cuap, menjawab telepon entah dari keluarga maupun pekerjaannya. Kalau ditilik sekilas, memang hal yang biasa, semuanya jamak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masalahnya adalah, menyelipkan ponsel didalam helm saat kendaraan masih melaju kencang, sangatlah berbahaya. Sayangnya saya saat itu sedang bersama Atasan didalam kendaaraan, hingga tidak dapat memotret aksi pengendara motor yang terlihat sepele tetapi sangat beresiko terhadap kecelakaan dijalan. Padahal, tangan ini sudah gatal, sambil meraba-raba kamera yang terselip di pinggang untuk mengabadikan gambar tersebut sebagai contoh kurang baik, untuk keluarga ataupun bercermin untuk diri saya sendiri. Namun karena ada Atasan di bangku depan, hingga niat memotret saya urungkan, karena takut menjadi pertanyaan disaat saya sedang kerja.
Apa yang dilakukan pengendara tersebut adalah kebiasaan buruk hampir sebagian besar masyarakat di Indonesia. Bahkan saya pun dulu sering melakukannya, ketika ada telepon penting lalu tangan kiri saya ambil ponsel kemudian diselipkan dalam helm, sementara tangan kanan saya tetap memegang stang sepeda motor. Namun semenjak ponsel saya selip dan teerjatuh hingga terpelanting di jalan, saya pun enggan melakukannya lagi. Hingga saat ini, ponsel saya meski hanya tergores kacanya, namun sudah tidak bisa dipergunakan kembali akibat dalamannya rusak parah. Apalagi saat membaca banyak berita di koran dan televisi mengenai kasus kecelakaan di jalan raya, sebagian besar terjadi karena ulah pengendara yang menggunakan ponsel sambil berkendara. Saya yang kapok, karena dua kali pernah merasakan sakitnya di cium aspal, akibat kecelakaan hingga patah tulang kaki dan selangka, tentunya tidak mau mengulanginya lagi.
Berkaca dari situ, saya pun mencoba untuk tidak menggunakan ponsel saat mengendarai sepeda motor. Meski itu ada telepon penting maupun sms yang sangat genting sekalipun, saya selalu mengusahakan untuk mengacuhkannya hingga motor saya berhenti di tempat yang aman, baru mengangkat telepon tersebut. Atau biasanya, saya selalu membuat profil diam (silent) di ponsel saat hendak bepergian. Bukan apa-apa, meski sedarurat apapun panggilan yang masuk, namun resiko yang terjadi bila tetap mengangkat telepon akan berakibat sangat buruk sekali. Nyawa menjadi taruhannya…
Untuk itu, saya pun selalu berpesan kepada Adik, Saudara sepupu, Keluarga lainnya atau kawan-kawan di kampus dan kerjaan. Bukan karena saya sok tahu ataupun terlalu menggurui, namun karena saya sendiri pernah merasakan tidak enaknya dirawat hingga sebulan akibat terjadi kecelakaan.

1. Usahakan tidak mengangkat telepon yang masuk ketika sedang dijalan, meski itu penting sekalipun dari keluarga, atau dari perusahaan. Memang sih tidak enak, karena kesannya gimana gitu kalau ada orang nelepon tidak di angkat. Belum lagi misalnya dari pekerjaan menyangkut tender atau perintah dari Bos. Namun sekali lagi, nyawa kita sangatlah penting dibanding segalanya, termasuk pekerjaan.

2. Sebaiknya membalas sms ketika motor sedang berhenti di tempat aman seperti halte, atau kalau darurat benar minimal di lampu merah. Memang sih enjoy saja, tangan kiri mengetik keyboard di ponsel dan tangan kanan tetap asyik menjalankan sepeda motor. Namun itu semua beresiko tinggi, karena dapat menyebabkan buyarnya konsentrasi serta berbahaya untuk pengendara di depan kita.

3. Kalau bisa, jangan sekali-kali untuk menyelipkan ponsel di telinga, meski helm yang kita gunakan adalah helm standar. Sebab, kalau sampai ponsel yang diselipkan itu malah selip dan jatuh yang ada malah sangat berbahaya. Ketika ponsel jatuh, dengan refleks kita pasti akan menengok kebawah dan belakang kendaraan untuk memastikan ponsel kita rusak atau tidak. Nah itu yang sangat berbahaya, sebab pandangan kita di depannya akan terganggu, mending kalau tidak ada kendaraan lain. Kalau didepan kita ada sebuah bus atau angkot yang biasanya suka berhenti mendadak bagaimana?

4. Membiasakan diri untuk membuat profil diam (silent) sebelum bepergian, dan setelah sampai tempat tujuan baru mengaktifkannya kembali. Langkah ini sekadar untuk berjaga-jaga saja, sebab lebih baik mencegah terjadinya kecelakaan sedari dini daripada mengetahuinya setelah kita mengalami.

5. Tidak menggunakan handsfree/ handset di telinga sambil mengendarai sepeda motor. Banyak mitos yang beredar di kalangan masyarakat, kalau kita mau aman saat menerima telepon dijalan adalah dengan memakai handsfree di kedua telinga, maka mengobrol sambil berkendara pun akan aman-aman saja. Jelas ini adalah persepsi yang keliru, sebab meski betul selama di jalan raya tidak mengalami apa-apa, namun saat melewati perlintasan pintu rel kereta api tentunya menjadi sebuah marabahaya. Ditengah jalan raya, terkadang kita tidak dapat mendengar dengan jelas ada kereta lewat atau tidak, meski sudah ada palang pintu yang memberhentikannya. Namun, karena telinga kita tertutup handset hingga menyebabkan tidak terlalu mendengar, maka akibatnya menjadi fatal. Di daerah tempat tinggal saya, dekat stasiun Duri, Jakarta Barat, beberapa bulan lalu pernah terjadi kecelakaan ketika ada orang yang melintasi rel kereta, padahal sudah diteriaki oleh masyarakat setempat untuk berhenti, namun karena telinganya masih memakai handsfree hingga ia tidak mendengar dan akhirnya ditabrak kereta yang lewat…
Sebagai manusia tentunya kita berusaha untuk mencegah agar tidak terjadi sesuatu hal yang sangat tidak kita inginkan. Selain itu, sebelum bepergian kita pun harus tetap selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan selama dalam perjalanan.
*   *   *
Djembatan Lima, 27 Desember 2011 (21:15 wib)

0 komentar:

Posting Komentar

 
;